Dari kisah lahirnya Rahwana, kita belajar satu hal, bahwa angkara murka bisa lahir dari cinta yang salah dimaknai. Rahwana bukan sekadar tokoh antagonis, ia adalah simbol ketika “cinta” turun derajat menjadi nafsu, ambisi, dan kepemilikan.
Konon, Rahwana lahir dari kegagalan orang tuanya, Sukesi dan Wisrawa dalam menerjemahkan Sastrajendra, ilmu hakikat cinta. Padahal cinta sejati bukan nafsu, bukan penguasaan, bukan hasrat memiliki. Cinta sejati adalah bhakti, sebuah pengabdian yang lembut, memberi tanpa menuntut, memuliakan tanpa mengikat, menjaga tanpa menguasai.
Saat cinta berubah menjadi kepemilikan, ia melahirkan cemburu. Saat cinta berubah menjadi ambisi, ia melahirkan kekerasan. Saat cinta berubah menjadi proyek ego, ia melahirkan angkara.
Ananda, lihatlah cintamu. Apakah ia membuatmu semakin luas dan lembut? Atau justru membuatmu ingin mengendalikan, memaksa, dan menuntut?
Jika cintamu masih menuntut balasan, itu belum bhakti, itu masih transaksi ego. Dalam keheningan, kamu bisa mengembalikan cinta ke tempat asalnya: pengabdian.
Karena cinta yang benar akan memerdekakan. Cinta yang salah hanya menjerat, dan dari jerat itulah Rahwana bisa lahir di dalam diri kita semua.



