Ananda tersayang,
Psikologi berkata, “kamu harus sehat mental.” Banyak istilah, diagnosis, dan cara untuk “memperbaiki” yang dianggap rusak di dalam dirimu. Itu bermanfaat di level tertentu, membantu kita memahami pola, luka, dan kebutuhan mental sebagai manusia.
Namun Kesadaran datang dengan bisikan lain, “tidak ada yang benar-benar sakit di pusat dirimu. Kamu hanya sedang lupa hadir sebagai penyaksi.”
Yang kacau adalah isi pikiran, bukan ruang yang menampung pikiran. Yang terluka adalah cerita, bukan kesadaran yang menyaksikan cerita. Ketika kamu hanya mengidentifikasi diri sebagai pikiran dan emosi, kamu merasa “aku rusak, aku salah, aku sakit.”
Padahal di kedalaman dirimu ada satu titik yang tidak pernah rusak, adalah ruang hening yang hanya mengamati. Di sana tidak ada label normal & tidak normal, sehat & sakit. Yang ada hanyalah hadir menyaksi.
Bukan berarti kamu mengabaikan mental aid. Silakan berobat, silakan terapi, itu bentuk sayang pada diri. Namun jangan lupa, di balik semua proses itu, ada satu hal yang paling genuine yaitu kemampuanmu untuk hadir menyaksi.
Saat kamu kembali ke sana, kamu tidak butuh siapapun, dan kamu tidak lagi jadi “pasien kehidupan” yang kambuh-kambuhan dari luka, melainkan menjadi saksi yang merdeka.



