Ananda tersayang,
Kalau ada dua pintu masuk menuju kedalaman batin : Pintu Hening atau Pintu Cinta, pintu mana yang kamu pilih?
Keduanya baik, tapi pahami ini, cinta yang tidak berangkat dari hening sering berubah menjadi cinta pamrih dan cinta yang sakit. Karena ia masih cinta personal, cinta yang tumbuh dari identitas “aku”, dari luka yang ingin sembuh, dari kebutuhan untuk diakui, dimiliki, dan dibalas. Ia bisa tampak manis, tapi di dalamnya ada tuntutan halus.
Cinta personal sikap syukurnya terjadi karena “aku” sembuh dari luka, “aku” diterima, “aku” disayang, “namaku” dipuji. Itu masih egosentris, mikro. Sedangkan cinta makro, adalah cinta yang transendental. Rasa cinta itu akan bersyukur karena kamu adalah bagian dari kehidupan yang luas dan utuh, bahkan saat namamu tidak disebut, bahkan saat kamu tidak jadi siapa-siapa, tidak masalah. Karena si cinta merasa dia bagian dari kehidupan itu sendiri. Bagian dari yang baik & yang jahat, bagian dari yang menyayangi & yang melukai.
Di sinilah pentingnya Pintu Hening. Hening membuatmu ingat bahwa si “aku” bukan pusat semesta. Dari rasa “aku bukan siapa-siapa” itulah cinta tumbuh menjadi murni. Ia tidak memaksa, tidak ngotot, tidak mengendalikan. Cinta menjadi aliran, bukan proyek ego. Ego bisa terluka, bisa kecewa, namun keheningan tidak bisa.
Maka hari ini, Ananda, masuklah dulu ke hening. Dari hening baru kamu bisa menumbuhkan cinta yang sadar. Dan cinta yang sadar tidak melelahkan, tidak kambuh-kambuhan dari sakit dan lukanya, ia membebaskanmu.



